BERANI BEDA! PETANI INI TANAM 50 HEKTAR “EMAS BIRU” PEWARNA KAIN ALAMI RAMAH LINGKUNGAN
May 23, 2026•Channel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3•Updated Just now
Video Overview
Video Details
Published1 month ago
Duration10:44
Video ID-w7mPzpbCSk
Languageid
CategoryPeople & Blogs
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeRegular Video
Performance Metrics
Views37.2K
Likes452
Comments66
Engagement Rate1.39%
Likes per 100 views1.21
Comments per 1K views1.77
Video Tags
Description
Pak Fatah Ipung petani yang mengembangkan tanaman Strobilanthes untuk diambil pigmennya sebagai pewarna alami kain dan benang yang ramah lingkungan. Awalnya pak Fatah memproduksi gagang sekop di Ngadirejo, Temanggung, yang menjadi tempat berkumpul dan mengobrol bersama teman-teman muda. Dari obrolan itu pak Fatah pertama kali mendengar cerita tentang tanaman indigo, yang ternyata tanaman penghasil warna biru, hingga akhirnya pak Fatah mulai mencari dan mempelajari tanamannya.
Pak Fatah awalnya menanam Indigofera tinctoria yang berdaun kecil dan mencoba menanamnya selama kurang lebih satu tahun. Selama proses produksi, pak Fatah melihat bahwa tanaman yang mengeluarkan warna biru bukan hanya Indigofera tinctoria atau Indigofera erecta, melainkan ada jenis lain yaitu Strobilanthes cusia. Karena waktu itu tanaman ini belum ada di Jawa, pak Fatah tertarik mempelajari karakternya untuk dikembangkan, dan akhirnya menemukan tempat yang sangat cocok di daerah Wonoboyo, Kabupaten Temanggung.
Pigmen warna biru yang diambil dari tanaman ini menjadi pewarna alami yang ramah lingkungan untuk benang, kain, tegel, hingga sabun mandi. Kelebihan warnanya adalah biru yang dihasilkan lebih kuat, sehat untuk kulit, dan jika cara pemakaiannya benar. Pewarna biru ini banyak dipakai oleh pembatik, pengrajin sasirangan di Kalimantan, serta penenun dari Lombok, Tapanuli, Medan, Palembang, serta dikolaborasikan dengan Sekar Kawung untuk serat kapas, Rabersa Wonosobo untuk serat rami, dan kraft denim.
Proses budidaya dari menanam sampai panen pertama memakan waktu kurang lebih 5 sampai 6 bulan, dan setelah panen pertama itu tanaman bisa dipangkas kembali setiap 3 sampai 4 bulan. Saat panen, bagian pucuk dipangkas sepanjang 30 sampai 40 sentimeter dengan menyisakan satu jengkal di bagian bawah agar nanti tumbuh tunas baru untuk seterusnya. Proses produksinya sendiri sangat sederhana tetapi memakan waktu kurang lebih satu minggu. Daun hasil panen dibawa ke tempat produksi lalu direndam di dalam air untuk difermentasi selama 3 hari, kemudian air pigmennya diambil untuk dikebur atau diaerasi dengan campuran sedikit kapur sambil diaduk menggunakan oksigen selama 2 jam, lalu dibiarkan mengendap semalam untuk diambil endapannya.
Pak Fatah sudah mengerjakan usaha ini selama kurang lebih 8 tahun dengan melewati proses jatuh bangun dan sejak awal tidak menghitung untung rugi ke depan karena Pak Fatah mengerjakan apa yang dicintai, sehingga waktu satu atau dua tahun berjalan tanpa terasa karena dijalani dengan senang. Dedikasi ini membawa Pak Fatah menerima penghargaan Kalpataru dan yang terakhir adalah ASEPI go green.