Harmoni di Kota Khatulistiwa: Lampion dan Ketupat Hiasi Pontianak Sambut Imlek serta Ramadan

Feb 11, 2026Channel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3Updated Just now
News PONTV
News PONTV

20.3K subscribers

View Channel

Video Overview

Video Details

Published3 months ago
Duration1:00
Video ID7q3yAXklM38
Languageid
CategoryNews & Politics
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeYouTube Short

Performance Metrics

Views630
Likes5
Comments0
Engagement Rate0.79%
Likes per 100 views0.79
Comments per 1K views0.00

Description

Pemandangan berbeda terlihat di sudut-sudut jalanan Kota Pontianak. Lampion merah dan ornamen ketupat mulai menggantung berdampingan di sepanjang Jalan Gajah Mada dan sejumlah ruas jalan utama. Tahun ini, suasana Imlek dan Ramadan di Kota Khatulistiwa hadir hampir bersamaan, memperlihatkan wajah Pontianak sebagai kota multietnis yang menjunjung tinggi toleransi. Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menegaskan bahwa perpaduan simbol-simbol tersebut merupakan representasi dari keharmonisan masyarakat yang telah lama merawat keberagaman. “Kami ingin menunjukkan bahwa Pontianak tetap menjadi kota toleran, di mana perayaan keagamaan dan budaya dapat berlangsung berdampingan dengan penuh rasa saling menghargai,” ujar Edi Kamtono, Senin (9/2/2026). Meskipun berdekatan dengan bulan suci Ramadan, tradisi Imlek tetap akan dimeriahkan dengan ribuan lampion dan atraksi naga. Panitia Cap Go Meh Kota Pontianak bahkan telah menyiapkan 49 replika naga, dengan yang terpanjang mencapai 108 meter. Namun, untuk menjaga kekhusyukan ibadah Ramadan, durasi karnaval dipersingkat dan koordinasi dengan Forkopimda diperketat. “Di satu sisi masyarakat Tionghoa tetap menjalankan tradisinya, sementara umat Muslim menyambut Ramadan dengan kegiatan keagamaan. Semuanya berlangsung dalam ruang kota yang sama dan saling menghormati,” tuturnya. Keharmonisan ini turut dirasakan langsung oleh warga. Ibrahim (49), warga Pontianak Timur, mengaku tetap bisa menjalankan persiapan Ramadan dengan tenang meski kota tengah bersiap untuk perayaan Imlek. Hal serupa disampaikan Tjhang Sau Khiu (56), warga keturunan Tionghoa, yang merasa dihargai karena tradisi leluhurnya tetap bisa dirayakan dengan penuh rasa hormat terhadap umat Muslim. Selain nilai sosial, momen langka ini diprediksi akan mendongkrak ekonomi daerah. Kedatangan warga dari luar Kalimantan Barat untuk merayakan Imlek dan Cap Go Meh diharapkan memberikan dampak positif bagi sektor perhotelan dan kuliner, termasuk Festival Kuliner di Jalan Diponegoro. “Mudah-mudahan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan damai sesuai rencana, serta memberikan dampak ekonomi yang positif bagi kota ini,” pungkas Edi Kamtono.

Related Videos

More videos from News PONTV