RUMAH DI PENUHI SALIB TAPI JUSTRU MEMBUAT SAYA YAKIN MEMILIH MENJADI MUALAF

Jan 16, 2026Channel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3Updated Just now
Wakaf TV
Wakaf TV

180K subscribers

View Channel

Video Overview

Video Details

Published4 months ago
Duration25:10
Video ID9ffuXMEdU9E
Languageid
CategoryNonprofits & Activism
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeRegular Video

Performance Metrics

Views1.3K
Likes52
Comments7
Engagement Rate4.53%
Likes per 100 views4.00
Comments per 1K views5.38

Description

Sejak kecil, rumah itu bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah ruang ibadah, ruang doa, dan ruang keyakinan. Di setiap sudut dindingnya tergantung salib besar dan kecil. Di ruang tamu ada patung Yesus, di kamar ada salib kayu, bahkan di dapur pun tergantung simbol yang sama. Setiap pagi dan malam, aku dibiasakan berdoa di hadapan salib. Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa keselamatan ada di sana. Bahwa kebenaran tidak perlu dipertanyakan—cukup diterima. Namun, seiring bertambahnya usia, hatiku mulai bertanya hal-hal yang tak berani kuucapkan. Mengapa Tuhan harus disalibkan? Mengapa aku berdoa, tapi jiwaku tetap kosong? Mengapa simbol-simbol ini semakin banyak, namun ketenangan justru semakin jauh? Suatu malam, aku duduk sendirian di ruang tamu. Lampu redup. Salib-salib itu terlihat jelas mengelilingiku. Dan di saat itulah, untuk pertama kalinya, aku merasa takut… dan bingung. Bukan takut pada Tuhan, tapi takut pada keyakinan yang tak lagi ku pahami. Aku mulai membaca. Bukan hanya Injil, tapi juga Al-Qur’an. Awalnya hanya ingin membantah. Mencari kesalahan. Mencari celah. Namun yang kutemukan justru sebaliknya. Aku membaca tentang Tuhan Yang Esa, yang tidak dilahirkan dan tidak pula diperanakkan. Tentang Nabi Isa yang dimuliakan, bukan disalibkan. Tentang tauhid yang sederhana, tapi menghunjam ke relung jiwa. Setiap kali aku menutup mushaf, aku menatap salib-salib di rumah itu… dan anehnya, hatiku justru semakin yakin pada Islam. Bukan karena membenci salib. Bukan karena membenci keluargaku. Tapi karena aku akhirnya menemukan Tuhan yang selama ini kucari. Hari aku mengucap syahadat, rumah itu masih dipenuhi salib. Tak satu pun langsung diturunkan. Namun di dalam dadaku, aku tahu… Aku telah pulang. Islam tidak datang merobohkan rumahku, tetapi membangun keyakinan di dalam hatiku. Dan hari ini aku bersaksi, rumah yang dulu dipenuhi salib justru menjadi saksi bagaimana aku yakin memilih menjadi seorang mualaf.

Related Videos

More videos from Wakaf TV