Mengenal Leluhur Bani Abbas | Ustadz Wira Mandiri Bachrun
Mar 26, 2026•Channel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3•Updated Just now
Video Overview
Video Details
Published2 months ago
Duration1:03:36
Video IDCzjaUp-6X6M
Languageid
CategoryEducation
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeRegular Video
Performance Metrics
Views2.5K
Likes89
Comments3
Engagement Rate3.72%
Likes per 100 views3.60
Comments per 1K views1.21
Video Tags
Description
MENGENAL LELUHUR BANI ABBAS
Ustadz Wira Mandiri Bachrun حفظه الله تعالى
🗓️ Kamis, 26 Maret 2026
🏢 Studio ANB Channel, Krajan, Yogyakarta
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Melanjutkan pembahasan Kitab Bidayah wan Nihayah, perihal mengenal leluhur Bani Abbas, diantaranya tentang nisbatnya kepada Abbas bin Abdul Muthalib, paman dari Rasulullah ﷺ, hal ini menunjukkan bahwa Bani Abbas memiliki silsilah yang mulia. Bani Abbas termasuk ahlul baitnya Rasulullah ﷺ, sehingga tidak boleh menerima sedekah. Diriwayatkan dari Zaid bin Arqam, Zaid ibnu Arqam berkata:
قَامَ رَسُوْلُ اللهِ يَوْمًا فِيْنَا خَطِيْبًا بِمَاءٍ يُدْعَىخُمَّا بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةَ فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِوَوَعَظَ وَذَكَّرَ ثُمَّ قَالَ :أَمَّا بَعْدُ، أَلاَ أَيُّهَا النَّاسُفَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوْشِكُ أَنْ يَأْتيِ رَسُوْلُ رَبِّي فَأُجِيْبَ،وَأَنَا تَارِكٌ فِيْكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلَهُمَا كِتَابُ اللهِ فِيْهِالْهُدَى وَالنُّوْرُ، فَخُذُوا بِكِتَابِ اللهِ وَاسْتَمْسِكُوْا بِهِ.فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللهِ وَرَغَّبَ فِيْهِ ثُمَّ قَالَ :وَ أَهْلِبَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِيأَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي فَقَالَ لَهُ حُصَيْنٌ :وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدُ؟أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ؟ قَالَ :نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِبَيْتِهِ وَلَكِنْ أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حُرِّمَ الصَّدَقَةُ بَعْدَهُ .قَالَوَمَنْ هُمْ؟ قَالَ :هُمْ آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيْلٍ وَآلُ جَعْفَرٍوَآلُ عَبَّاسٍ .قَالَ :كُلُّ هَؤُلاَءِ حُرِّمَ الصَّدَقَةُ؟ قَالَ:نَعَمْ
Rasulullah pernah berdiri di depan kami pada suatu hari sebagai khatib di daerah mata air yang bernama Khum –daerah antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya. Beliau memberi nasehat dan memberi peringatan, kemudian berkata: ‘Amma ba’du, wahai manusia, sesungguhnya aku adalah manusia biasa yang sebentar lagi akan datang utusan Rabbku (malaikat maut), dan aku akan menyambutnya. Aku tinggalkan di antara kalian dua perkara yang berat. Pertama kitab Allah, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Ambillah kitab Allah ini dan berpeganglah dengannya’. Berkata Zaid, maka Rasulullah menganjurkan dan memberi semangat untuk berpegang dengan kitab Allah. Kemudian beliau berkata:“Yang kedua Ahlul Baitku. Aku peringatkan kalian tentang Ahlul Baitku, Aku peringatkan kalian tentang Ahlul Baitku, Aku peringatkan kalian tentang Ahlul Baitku.” Maka Hushain berkata kepada Zaid:“Siapakah Ahlul Baitnya, ya Zaid? Bukankah istri-istrinya termasuk Ahlul Bait?”Zaid menjawab: “Istri-istri beliau termasuk Ahlul Baitnya. Ahlul Bait adalah orang yang diharamkan menerima shadaqah setelah beliau.”Hushain berkata: “Siapakah (lagi) mereka?”Zaid menjawab: “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga ‘Abbas.” Hushain bertanya lagi: “Apakah semua mereka diharamkan menerima shadaqah?” Zaid menjawab:”Ya.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya dengan Syarh An-Nawawi juz 15/174-175 no. 6175)
Abbas bin Abdul Muthalib, adalah salah satu anak dari Abdul Muthalib yang merupakan kakek dari Rasulullah ﷺ, yang memiliki 10 orang anak laki-laki dan 6 orang anak perempuan. Abbas bin Abdul Muthalib usianya tidak terpaut jauh dengan usia Rasulullah ﷺ, yang dilahirkan 3 tahun sebelum tahun gajah, sehingga akan didapati riwayat-riwayat Rasulullah bersama Abbas bin Abdul Muthalib. Disebutkan dalam sebuah hadits yang shahīh bahwasanya ketika itu Rasūlullāh ﷺ turut membantu memperbaiki Ka’bah ditemani oleh pamannya Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib.
Jabir bin Abdillah berkata :“Tatkala ka’bah dibangun, Nabi ﷺ dan ‘Abbas ikut membantu mengangkat batu. Al-‘Abbas berkata kepada Nabi, “Letakkanlah sarungmu di atas lehermu (agar pundak/leher tidak terlalu sakit pada saat mengangkat batu karena dilapisi dengan sarung-pen).” Maka Nabi pun jatuh tersungkur di tanah, dan kedua matanya terangkat melihat ke langit dan ia berkata, “Sarungku-sarungku (tolong dikencangkan)!” Kemudian Al-‘Abbas pun mengencangkan sarung Nabi.” (HR Al-Bukhari no 1582)
wallahu'alam
Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=CzjaUp-6X6M
#leluhur #bani #abbas