🔴LIVE : Kondisi TerkinI Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Putri Cempo

Feb 24, 2026Channel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3Updated Just now

Video Overview

Video Details

Published3 months ago
Duration3:51:14
Video IDEIwYLPSMuDg
Languageid
CategoryNews & Politics
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeRegular Video

Performance Metrics

Views1.2K
Likes6
Comments0
Engagement Rate0.50%
Likes per 100 views0.50
Comments per 1K views0.00

Description

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Putri Cempo masih jauh dari target, dari 550 ton baru bisa sekitar 130 ton per hari. Salah satu solusi yang diusulkan yakni penambahan incinerator. Namun, Wali Kota Solo Respati Ardi akan mengevaliasi plasma gasifikasi yang saat ini sudah berjalan terlebih dahulu sebelum melakukan pengadaan incenerator. “Kita sedang evaluasi bersama dengan pihak pembangkit. Kita akan evaluasi dulu yang sudah ada (terkait incinerator),” jelasnya saat ditemui di TPA Putri Cempo, Senin (23/2/2026). Untuk mengurangi beban TPA Putri Cempo yang saat ini hingga 380 ton per hari, pihaknya akan berusaha melakukan pemilahan di tingkat hulu. Meski begitu, ia belum bisa mengemukakan target berapa banyak sampah yang bisa dikurangi. “Proses pengolahan sampah itu ada di hulu dan hilir. Di sini hilirnya tanggung jawab UPTD Pengelolaan Sampah DLH dan di hulunya tanggung jawab semua. Kami mengajak masyarakat pemilahan sampah di tingkat RT RW. Kami akan bertindak cepat mengajak masyarakat bersama-sama untuk mengurangi sampah masuk di TPA,” jelasnya. Sebelumnya, Tim Ahli Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Putri Cempo Prof. Prabang Setyono telah mengungkapkan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) saat ini masih gagal memenuhi target. Akibatnya, sampah semakin menumpuk sehingga membuat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) overload. “Menurut saya itu kan memang memang sudah overload lahannya ya memang yang segitu gitu kan ya. Sementara sama enggak bisa distop. Tiap hari kan enggak bisa stop 370-380 ton itu yang pasti itu saja. Tapi kalau untuk ekstensifikasi perluasan sudah enggak bisa,” jelasnya. Ia tidak membantah adanya opsi untuk membangun incinerator mengingat sampah yang menumpuk sudah terlalu banyak. Namun, untuk membangun fasilitas ini perlu meratakan salah satu blok tumpukan sampah. “Belum. Incinerator kita jelas extend ya extend lahan ya lahannya harus tambah lagi itu kan lahannya sudah nggak ada lahan itu. Itu saja dapat lahan itu kan dari blok A blok B blok C blok B jadi istilahnya menghilangkan satu blok di-flat baru dibangun gitu kan infrastruktur itu kan,” tuturnya. Diwacanakan yang akan membangun incinerator berkapasitas 1000 ton didanai dari BPI Danantara. Namun, pekerjaan rumah Pemerintah Kota Solo bagaimana meratakan sampah yang sudah berusia 34 tahun. “Dari Danantara ya 1000 ton, katanya. Ya kalau mau apa namanya nge flatkan yang Blok B seandainya ya kalau sekarang jadi tumpukan adalah 34 tahun yang lalu ya istilahnya ya monggo itu baru diflat baru ada lahan yang gitu kan ya,” jelasnya. Menurutnya, incinerator bisa menjadi solusi mengurangi tumpukan sampah di TPA Putri Cempo. Meski begitu, emisi yang ditimbulkan harus dipertimbangkan. “Kelihatannya mau di-combine gasifikasi ketika memang nilai optimasinya memang masih belum signifikan. Kalau incinerator apa pun dibakar ya namanya pakai bahan bakarnya mesti kebakar tuh ya. Hanya disempurnakan emisinya. Bagaimana kita tidak mencemari itu aja sebenarnya,” terangnya. (*)

Related Videos

More videos from Tribun Solo Official