CERITA PARA KIAI - Dari Mimbar Lomba Pidato ke Kota Industri, Dakwah Generasi Awal di Batam

Mar 7, 2026Channel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3Updated Just now

Video Overview

Video Details

Published4 months ago
DurationN/A
Video IDEa8htXoZMpE
Languageid
CategoryNews & Politics
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeRegular Video

Performance Metrics

Views0
Likes0
Comments0

Description

Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru TRIBUN-VIDEO.COM - Cita-cita itu tumbuh sejak ia duduk di kelas empat sekolah dasar. Di usia yang masih belia, Luqman kecil sudah berdiri di atas panggung lomba pidato, membayangkan dirinya menjadi seorang dai. Tak pernah ia sangka, mimpi masa kecil itu akan membawaanya merintis dakwah di Batam pada akhir 1990-an, saat kota ini belum seperti sekarang. - Berawal Dari Mimpi Seorang Anak Kelas Empat Keinginan menjadi dai, menurutnya, bukan keputusan yang datang tiba-tiba. Sejak duduk di bangku kelas empat SD, ia telah mengikuti berbagai lomba pidato dan kegiatan dakwah anak. Meski masih sangat muda, ia pernah beberapa kali meraih juara. Salah satu momen yang membekas terjadi saat ia duduk di kelas enam SD. Ia mengikuti lomba pidato di sebuah pesantren, dimana mayoritas pesertanya adalah santri, sementara dirinya belum pernah menempuh pendidikan agama seperti halnya di pondok pesantren. Namun karena kegigihannya, ia berhasil meraih hadiah yang masih ia kenang yakni kitab Tafsir Jalalain. Ia mengaku saat itu belum mampu membaca kitab tersebut, tetapi hadiah itu menjadi simbol mimpi yang mulai tumbuh. Ketertarikannya pada dunia dakwah semakin kuat setelah sering mendengar ceramah almarhum KH Zainuddin MZ di radio pada tahun 80an. Ia mengaku terinspirasi oleh retorika dan kekuatan dakwah sang dai yang kala itu dikenal sebagai "Dai Sejuta Umat". Bukan dari layar televisi maupun smartphone canggih seperti saat ini, hanya dari alat eletronik yang hanya memunculkan suara waktu itu. Dari radio-radio itulah ia belajar menyimak, meniru, dan memahami bagaimana dakwah disampaikan dengan menyentuh. - Awal Mula Pendidikan Hingga Penugasan ke Batam Setelah menyelesaikan SMP, ia masuk pesantren dan melanjutkan pendidikan hingga jenjang S1 di Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Di pesantren itu, ia menjalani pendidikan agama secara intensif sejak subuh hingga siang, lalu dilanjutkan pelajaran umum pada sore hari. Menjelang akhir perkuliahan, ia mendapatkan penugasan ke Batam pada 1998–1999. Saat itu, sebuah yayasan di Batam meminta seorang dai yang mampu membaca kitab kuning dan berdakwah. Tetnyata pria kelahiran Jember 20 November 1977 ini ditunjuk untuk berangkat. Batam kala itu belum seperti sekarang. Masjid Agung Raja Hamidah pun belum berdiri. Ia menjadi bagian dari generasi awal yang merintis dakwah di kota industri tersebut. - Wejangan Guru yang Mengubah Arah Hidup Setelah satu tahun bertugas, ia sempat kembali ke pesantren untuk melanjutkan pendidikan. Namun ia ingat sebuah peristiwa mengubah arah hidupnya. Saat berkunjung ke Batam, gurunya menyampaikan bahwa di Jawa sudah banyak kiai, sementara Batam lebih membutuhkan dakwah. Sang guru, memintanya untuk menetap. Menurutnya, sebagai santri, perintah guru diyakini mengandung hikmah. Nasihat bahwa semakin berat tantangan, semakin besar pula pahala, menjadi penguat langkahnya. Setelah menyelesaikan pendidikannya, sejak saat itu, ia kembali dan menetap di Batam hingga kini. - Dakwah di Tengah Tantangan Menurutnya, dakwah pada akhir 1990-an memiliki tantangan yang jauh lebih berat. Kajian rutin masih sangat terbatas. Ia mengingat hanya ada beberapa titik aktif seperti Majelis Ta’lim Nurul Diniyah di Sungai Panas dan Masjid Nurul Islam di Mukakuning. Peserta kajian rata-rata adalah karyawan perusahaan, berkisar 30 hingga 40 orang untuk pengajian rutin, dan bisa mencapai ratusan pada Pengajian Umum Malam Ahad. Materi yang disampaikan mencakup akidah, akhlak, fikih, hadis, hingga tafsir, sebagaimana tradisi pesantren. Di luar itu, kegiatan dakwah belum semarak seperti sekarang. Ia juga mengakui bahwa saat itu Batam menghadapi tantangan sosial yang berat, termasuk keberadaan lokalisasi dan praktik perjudian. Namun seiring waktu, kondisi tersebut berubah. Ia menilai Batam kini jauh lebih baik dibanding masa awal kedatangannya. - Miniatur Indonesia dan Dakwah Rahmatan Lil Alamin Sebagai kota dengan beragam suku, budaya, dan agama, Batam menurutnya adalah miniatur Indonesia. Dalam situasi pluralitas itu, ia meyakini dakwah harus bersifat rahmatan lil alamin. Ia menegaskan bahwa umat Islam harus memegang teguh keyakinannya, namun tetap memberi ruang dan hak kepada pemeluk agama lain. Konsep inilah yang menurutnya selaras dengan gagasan Batam sebagai “Bandar Dunia Madani", terinspirasi dari Piagam Madinah yang dibangun Rasulullah SAW dalam masyarakat majemuk. Editor Video: Indra Mahendra

Related Videos

More videos from Tribun Sulbar Official