Politik Kolonialisme Ingin Memisahkan Islam dan Jawa - Nur Khalik Ridwan | Menjadi Indonesia #45
Jul 3, 2026•Channel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3•Updated Just now
Video Overview
Video Details
Published2 weeks ago
Duration1:14:52
Video IDFZ8vD8L8Rvg
Languageid
CategoryEducation
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeRegular Video
Performance Metrics
Views1.4K
Likes84
Comments21
Engagement Rate7.71%
Likes per 100 views6.17
Comments per 1K views15.42
Video Tags
Description
Program Menjadi Indonesia NU Online menghadirkan Nur Khalik Ridwan (NKR), seorang peneliti kebudayaan Islam Jawa. Setelah menulis puluhan buku bertema Islam kontemporer dan terpantik pemikiran Gus Dur tentang pribumisasi Islam, ia mendalami naskah-naskah babad.
“Kalau bangsa atau generasi tidak mengenal sejarahnya sendiri, dia akan dibentuk sejarahnya oleh orang lain,” ujar Wakil Rais Syuriyah Pengurus Ranting NU Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta, ini.
Melalui buku terbarunya, "Ngelmu Syajarah Babad: Masalah, Kritik dan Jalan Keluar" (2026), NKR mengkritisi dua cara pandang yang selama ini mendominasi kajian Jawa. Pertama, pendekatan purifikasi (pemurnian) yang berupaya memisahkan secara paksa antara agama dan kebudayaan rakyat. Kedua, pendekatan sinkretisme yang banyak dianut peneliti asing, di mana Islam dan Jawa diposisikan setara namun dampaknya justru kerap menafikan fondasi Islam yang mengakar di lapisan bawah masyarakat.
“Sejak kolonialisme, mereka memang punya politik untuk memisahkan Islam dan Jawa,” ujarnya.
Sebagai jalan keluar, NKR menawarkan perspektif "Iman Jawi" untuk membaca historiografi Jawa. Menurutnya, mayoritas penulis babad dan serat legendaris pada dasarnya adalah seorang muslim yang dibentuk oleh tradisi esoteris atau tarekat. Oleh sebab itu, mengeksplorasi dunia Jawa tanpa memahami lanskap berpikir Islam esoteris hanya akan membuat peneliti tersesat di dalam rimba kebuntuan, serta gagal melihat bagaimana Islam telah mengintegrasikan diri secara utuh dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. Manifestasi Islam Jawa bisa sangat lokal—terwujud dalam arsitektur joglo hingga tembang macapat tanpa kosakata Arab seperti Sigro Milir—namun substansi nilainya tetap bersumber pada samudra keislaman.
Riset mendalam ini menuntut metodologi yang lebih ketat dalam memilah naskah babad, mengingat banyaknya narasi yang tumpang tindih atau bias kolonial. NKR mengajak generasi muda untuk membaca ulang babad dengan kritis melalui petunjuk kronologi raja, angka tahun, hingga pohon sanad naskah. Melalui metodologi yang tepat, khazanah masa lalu ini diharapkan dapat terus direproduksi menjadi energi positif untuk merawat keindonesiaan.
Segmen video:
00:00:00 - Cuplikan dan intro
00:01:27 - Arti penting babad untuk Indonesia
00:16:06 - Kritik historiografi dan jalan keluar (Iman Jawi)
00:33:49 - Pribumisasi Islam Gus Dur dan naskah babad
00:43:56 - Memisahkan Islam dan Jawa
00:49:53 - Pribumisasi Islam di Jawa setelah Majapahit
00:55:14 - Singkretisasi atau Pribumisasi Jawa Islam?
01:01:04 - Pra-Perang Jawa: keraton-pesantren tak terpisah
01:05:35 - Bendungan Indonesia dan arti penting Iman Jawi
01:13:13 - Penutup dan kredit video
___________
NU Online - Media Resmi Nahdlatul Ulama
Super App | Website | Tiktok | X | Youtube | Instagram | Facebook | Spotify
Follow Us: https://linktr.ee/NUOnline
#nahdlatululama #nuonline #pbnu #jawa #babadtanahjawa #babadjawa #sejarahjawa #budaya #budayajawa #kebudayaan #kebudayaanadalahkegembiraan #menjadiindonesia #indonesia