Cerita di Balik Jarik Terbalik Sang Raja, GKR Timoer: Kemarin Kita Itu Semua Diare
Mar 31, 2026•Channel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3•Updated Just now
Video Overview
Video Details
Published2 months ago
Duration27:20
Video IDGJP94CLobeo
Languageid
CategoryNews & Politics
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeRegular Video
Performance Metrics
Views3.9K
Likes38
Comments64
Engagement Rate2.64%
Likes per 100 views0.98
Comments per 1K views16.54
Description
Sumber: https://solo.tribunnews.com/solo/339243/jarik-purboyo-terbalik-saat-halalbihalal-di-keraton-solo-gusti-timoer-tidak-perlu-dibesar-besarkan
TRIBUNSOLO.COM - Momen sakral Ngabekten di Sasana Narendra, Kamis (26/3/2026) lalu, mendadak menjadi buah bibir. Bukan karena prosesi adat yang menyimpang, melainkan karena selembar kain batik yang dikenakan oleh Pakubuwono (PB) XIV Purboyo. Netizen di grup Facebook "Pemerhati Karaton Mataram Surakarta Hadiningrat" menangkap detail yang tak biasa: jarik sang raja terbalik.
Spekulasi pun liar bertebaran. Akun Anggun Adila, misalnya, mempertanyakan kompetensi Pranata Busono (penata busana) keraton, bahkan melangkah jauh dengan mengaitkannya sebagai "pertanda alam" atau kode-kode metafisika tertentu.
Namun, di balik tembok tebal tradisi, kenyataannya jauh lebih membumi.
Gusti Kanjeng Ratu Wandansari (GKRW) Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, Pengageng Sasana Wilapa, hanya bisa tersenyum simpul menanggapi keriuhan tersebut. Menurutnya, tidak ada pesan langit di balik kain yang terbalik. Yang ada hanyalah drama kesehatan keluarga yang sangat manusiawi.
"Wajar saja ketika kita terburu-buru kemudian ada kesalahan, karena sebetulnya kemarin kita semua itu sedang diare," ungkap Timoer santai saat dikonfirmasi, Senin (30/3/2026).
Malam sebelum acara, "badai" melanda kediaman mereka. Mulai dari Gusti Sekar, Ibu, hingga Sinuhun Purboyo sendiri harus bolak-balik ke toilet akibat salah makan. Rasa mulas yang tak kunjung usai membuat persiapan di pagi hari menjadi sangat mepet dan penuh tekanan.
Kesalahan pagi itu ternyata ganda. Selain pola batik yang posisinya tidak tepat, lipatan atau *wiru* pada jarik tersebut juga keliru. Begitu menyadari ada yang tak beres di tengah acara, Sinuhun Purboyo segera menuju ke belakang untuk berganti pakaian.
Bagi pihak keraton, insiden ini adalah teknis kecil yang bisa segera diperbaiki. GKRP Timoer menegaskan bahwa esensi dari *Halalbihalal*—yakni menyambung tali silaturahmi antara kerabat dalem dan masyarakat agar tetap terjaga sepenuhnya.
Keriuhan di media sosial menunjukkan betapa besarnya perhatian masyarakat terhadap setiap gerak-gerik simbolis di dalam keraton. Namun, kisah jarik terbalik ini menjadi pengingat lembut bahwa di balik gelar yang agung, ada raga manusia yang bisa sakit perut, ada rasa terburu-buru, dan ada kesalahan yang sangat wajar terjadi.
Jarik bisa dibalik, *wiru* bisa dilipat ulang, namun ketulusan untuk tetap hadir menemui rakyat di tengah kondisi fisik yang tidak prima justru menjadi catatan tersendiri dari Ngabekten tahun ini.