🔴 Trump Ancam Balasan Keras, Iran Justru Gempur Pangkalan AS di Yordania dan Negara Teluk
Jun 12, 2026•Channel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3•Updated Just now
Video Overview
Video Details
Published1 month ago
Duration2:30:02
Video IDHOG07VXMwOY
Languageid
CategoryNews & Politics
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeRegular Video
Performance Metrics
Views189
Likes3
Comments0
Engagement Rate1.59%
Likes per 100 views1.59
Comments per 1K views0.00
Video Tags
Description
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
TRIBUN-VIDEO.COM - Dua hari kedua berturut-turut, Iran san Amerika Serikat saling melancarkan serangan di Timur Tengah.
Situasi ini memperbesar risiko runtuhnya gencatan senjata yang telah berjalan sejak April lalu.
Militer AS mengumumkan operasi terbaru terhadap sejumlah target di Iran selatan.
Sasaran yang disebut dihantam meliputi fasilitas radar, pengawasan, dan instalasi militer.
Washington menyebut operasi itu sebagai langkah pertahanan.
Serangan tersebut terjadi setelah Presiden Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Teheran.
Trump menilai proses negosiasi berjalan terlalu lambat.
Ia menegaskan tekanan militer akan terus dilakukan bila tidak ada kemajuan.
Tak lama setelah serangan itu, Iran melancarkan aksi balasan.
Beberapa aset militer Amerika di kawasan Teluk kembali menjadi target.
Pangkalan Amerika di Bahrain dan Kuwait dilaporkan diserang untuk hari kedua berturut-turut.
Iran juga mengklaim telah menargetkan pusat komando militer Amerika di Yordania.
Klaim tersebut disampaikan melalui Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC.
Di Bahrain, sirene peringatan serangan udara sempat dibunyikan.
Sementara itu, Kuwait mengaktifkan sistem pertahanan udaranya.
Pihak Kuwait menyatakan sejumlah ancaman udara berhasil dicegat.
Negara itu juga menutup sementara wilayah udaranya demi alasan keamanan.
Eskalasi tidak berhenti sampai di situ.
IRGC mengaku menyerang dua kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz.
Namun hingga kini belum ada verifikasi independen terkait klaim tersebut.
Sebelumnya, media pemerintah Iran melaporkan penutupan Selat Hormuz.
Laporan itu langsung memicu perhatian pasar global.
Meski demikian, militer Amerika menyatakan jalur pelayaran masih beroperasi.
Kapal-kapal komersial disebut tetap melintas di kawasan tersebut.
Ketidakpastian itu berdampak pada harga energi dunia.
Di Washington, Trump kembali mengeluarkan pernyataan keras.
Ia mengatakan serangan terhadap Iran akan terus berlanjut bila diperlukan.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga menyampaikan pesan serupa.
Menurutnya, Iran telah mendapat kesempatan untuk mencapai kesepakatan.
Namun peluang itu dinilai tidak dimanfaatkan dengan baik.
Di sisi lain, Teheran menolak tekanan yang datang dari Washington.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah.
Kementerian Luar Negeri Iran bahkan menuding Amerika merusak jalur diplomasi.
Hubungan kedua negara sebenarnya sempat mereda setelah gencatan senjata April lalu.
Namun berbagai insiden keamanan terus terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Upaya mediasi dan perundingan terbaru pun belum menunjukkan hasil nyata.
Pekan ini, ketegangan kembali memuncak setelah sebuah helikopter Amerika ditembak jatuh.
Serangan itu dituduhkan kepada Iran.
Sejak saat itu, aksi saling balas terus meluas di berbagai titik Timur Tengah.
Dunia kini menyoroti apakah konflik ini akan mereda atau justru semakin membesar.
Sementara itu, Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan militer di kawasan Timur Tengah.
Iran mengklaim menyerang sejumlah pangkalan militer AS sebagai balasan atas operasi Washington, sementara konflik tersebut turut memicu kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Meski situasi memanas, upaya diplomasi masih berlangsung dengan pembahasan yang terfokus pada program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, serta pembebasan aset Teheran yang dibekukan.
(tribun-video.com)
https://internasional.kompas.com/read...
Program: TribunnewsWiki
Editor Video: Dandi Bahtiar