Modus Gali Lubang Tutup Lubang, WO Tipu Puluhan Calon Pengantin [PART 2]
Jun 12, 2026•Channel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3•Updated Just now
Video Overview
Video Details
Published3 weeks ago
Duration4:25
Video IDLXHS-xjZAck
Languageid
CategoryNews & Politics
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeRegular Video
Performance Metrics
Views17
Likes0
Comments0
Engagement Rate0.00%
Likes per 100 views0.00
Comments per 1K views0.00
Video Tags
Description
Pasangan suami istri berinisial RM dan ER akhirnya diringkus Tim Satreskrim Polres Metro Jakarta Timur setelah masuk dalam daftar pencarian orang terkait kasus dugaan penipuan berkedok wedding organizer.
Keduanya ditangkap di tempat persembunyiannya di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada 29 Mei lalu. Setelah diamankan, RM dan ER langsung dibawa ke Polres Metro Jakarta Timur untuk menjalani pemeriksaan intensif.
Dari hasil penyelidikan, terungkap pasangan tersebut menjalankan bisnis wedding organizer bernama Marwah yang beroperasi di wilayah Jabodetabek dan berkantor di kawasan Cakung, Jakarta Timur.
Polisi menemukan sedikitnya 58 korban telah tertipu dengan total kerugian mencapai Rp2,6 miliar. Modus yang digunakan adalah sistem “gali lubang tutup lubang”, yakni menggunakan uang dari klien baru untuk membiayai acara klien sebelumnya.
Fakta mengejutkan lainnya, praktik serupa ternyata pernah dilakukan keduanya pada tahun 2021 melalui usaha bernama Ekarisma Catering di wilayah Bandung, Jawa Barat. Saat itu mereka juga tersandung kasus penipuan dan penggelapan hingga harus menjalani hukuman penjara.
Namun setelah bebas, keduanya kembali menjalankan usaha serupa dengan nama berbeda dan memperluas operasionalnya ke wilayah Jabodetabek.
Polisi juga mendapati kantor Marwah Organizer di Cakung telah ditinggalkan penghuninya sejak beberapa pekan terakhir. Kondisi serupa ditemukan di gudang penyimpanan perlengkapan dekorasi dan gaun pengantin di kawasan Rorotan, Jakarta Utara.
Sejumlah saksi menyebut lokasi tersebut sudah kosong selama dua hingga tiga minggu terakhir, baik dari aktivitas pemilik maupun para karyawan.
Menurut penyidik, keberhasilan beberapa acara pernikahan yang pernah digelar pelaku sengaja dijadikan etalase untuk menarik calon korban baru. Dengan promosi yang meyakinkan di media sosial, banyak konsumen tergiur paket pernikahan berharga murah dengan janji fasilitas mewah.
Pakar perlindungan konsumen menilai masyarakat kerap terpengaruh oleh promosi media sosial, ulasan pengguna, hingga kampanye buzzer yang membuat suatu usaha terlihat kredibel meski belum tentu memiliki kondisi keuangan yang sehat.
Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati saat memilih jasa wedding organizer. Konsumen diimbau melakukan pengecekan langsung terhadap alamat usaha, legalitas perusahaan, hingga rekam jejak penyedia jasa sebelum melakukan pembayaran dalam jumlah besar.
Polisi masih membuka kemungkinan adanya korban lain dan mengimbau masyarakat yang merasa dirugikan untuk segera melapor.