🔴LIVE : Puluhan Mahasiswa Gelar Aksi Demo di Bundaran Kartasura Sukoharjo, Tuntut Reformasi Polri
Feb 25, 2026•Channel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3•Updated Just now
Video Overview
Video Details
Published4 months ago
Duration1:15:06
Video IDNdYo2k1VV1E
Languageid
CategoryNews & Politics
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeRegular Video
Performance Metrics
Views862
Likes8
Comments7
Engagement Rate1.74%
Likes per 100 views0.93
Comments per 1K views8.12
Video Tags
Description
TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam PMII Komisariat Raden Mas Said Surakarta menggelar aksi damai di bundaran Tugu Kartasura, Selasa (24/2/2026).
Dalam aksi tersebut, para mahasiswa membawa berbagai poster berisi tuntutan, salah satunya mendesak dilakukannya reformasi di tubuh Polri.
Aksi tersebut dipicu oleh dugaan tindakan represif oknum aparat kepolisian yang mengakibatkan seorang siswa MTs di Maluku meninggal dunia.
Peristiwa itu dinilai menambah daftar panjang kasus kekerasan yang melibatkan aparat terhadap warga sipil.
Koordinator aksi PMII Komisariat Raden Mas Said Surakarta, Irfan Nurkholis mengatakan aksi damai ini merupakan bentuk keprihatinan mahasiswa terhadap situasi bangsa saat ini.
Ia menilai, kasus-kasus serupa terus berulang tanpa adanya evaluasi dan pembenahan yang serius.
“Kita kembali terluka karena aparat kepolisian mengulangi kesalahan yang sama. Beberapa kasus di tahun sebelumnya, termasuk Agustus kemarin, saudara kita tumbang karena polisi. Sekarang terulang lagi dan korbannya seorang pelajar. Itu yang membuat kami semakin geram,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Menurut Irfan, selain kasus kekerasan terhadap pelajar, mahasiswa juga menyoroti persoalan lain seperti dugaan kriminalisasi dan penahanan terhadap sejumlah aktivis.
Karena itu, mereka memilih turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi secara damai.
“Kami hadir menyuarakan aspirasi dengan cara yang santun, melalui aksi damai. Poin besarnya adalah mendesak reformasi Polri agar tidak lagi melakukan tindakan represif terhadap masyarakat sipil,” tegasnya.
Ia menambahkan, reformasi yang dimaksud mencakup evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan, penegakan disiplin internal, hingga transparansi dalam penanganan kasus yang melibatkan aparat.
Sementara itu, peserta aksi lainnya, Iskak dari komisariat yang sama, menjelaskan mahasiswa kembali menggaungkan tagar yang sebelumnya digunakan dalam aksi pada Agustus 2025.
Tagar tersebut dinilai sebagai simbol gerakan moral untuk mendorong perubahan di institusi kepolisian.
“Tagar yang kami gunakan ini sudah ada sejak aksi Agustus 2025. Itu menjadi simbol tuntutan reformasi Polri. Tetapi sampai sekarang kami belum melihat langkah konkret dari pemerintah terkait reformasi tersebut,” katanya.
Iskak juga menjelaskan salah satu kode tulisan dalam poster mereka merujuk pada simbol kritik terhadap institusi kepolisian, yang intinya mendesak dilakukannya reformasi dan pembenahan secara menyeluruh.
Aksi berlangsung damai dengan pengawalan aparat kepolisian. Mahasiswa berharap suara mereka dapat menjadi perhatian pemerintah pusat untuk segera mengambil langkah konkret dalam melakukan reformasi institusi kepolisian demi menjamin perlindungan hak-hak sipil masyarakat. (*)