SETIAP NATAL JADI PANITIA... TAPI HATI SAYA SELALU BERISIK: AKU HARUS JADI MUALAF

Feb 6, 2026Channel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3Updated Just now
Wakaf TV
Wakaf TV

180K subscribers

View Channel

Video Overview

Video Details

Published3 months ago
Duration39:57
Video IDVCb52Yvnjds
Languageid
CategoryNonprofits & Activism
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeRegular Video

Performance Metrics

Views216
Likes17
Comments0
Engagement Rate7.87%
Likes per 100 views7.87
Comments per 1K views0.00

Description

Sejak kecil, setiap Desember tiba, saya selalu ada di barisan paling depan. Menjadi panitia Natal, mengatur acara, memastikan ibadah berjalan khidmat semua itu sudah seperti rutinitas hidup. Dari luar, iman saya terlihat utuh. Tapi tak ada yang tahu, di balik senyum dan kesibukan itu, hati saya justru tak pernah tenang. Setiap lagu pujian berkumandang, ada suara lain di dalam dada yang berbisik semakin keras. Bukan suara penolakan, tapi pertanyaan yang tak pernah berhenti: *tentang ketuhanan, tentang kebenaran, tentang siapa sebenarnya yang saya sembah.* Saya mulai membaca, membandingkan, dan diam-diam mengenal Islam—agama yang dulu hanya saya lihat dari jauh, penuh prasangka. Yang membuat hati semakin berisik adalah satu kalimat sederhana: **tauhid**. Ketika saya memahami makna “tiada Tuhan selain Allah”, dada saya bergetar. Tidak ada perantara, tidak ada kerumitan konsep. Hanya Tuhan Yang Esa, disembah langsung oleh hamba-Nya. Sejak saat itu, setiap Natal justru menjadi ujian batin terberat. Saya tetap berdiri sebagai panitia, tetap menjalankan tugas, tapi hati saya sudah berjalan ke arah lain. Hingga suatu hari, saya tak sanggup lagi berbohong pada diri sendiri. Dengan air mata dan rasa takut kehilangan segalanya, saya memilih bersyahadat. Bukan karena kebencian pada masa lalu, tapi karena panggilan kebenaran yang tak bisa lagi diabaikan. Inilah kisah tentang kegelisahan yang berakhir pada keberanian. Tentang hati yang akhirnya pulang.

Related Videos

More videos from Wakaf TV