BAWA ROSATOM & RUSAL ! ROMBONGAN RUSIA MASUK KALBAR, KEMHAN BEBER ALASAN TAK BELI KAPAL INDUK BARU
Mar 2, 2026•Channel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3•Updated Just now
Video Overview
Video Details
Published3 months ago
Duration8:48
Video IDZuzvLk8LNII
Languageid
CategoryNews & Politics
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeRegular Video
Performance Metrics
Views22.2K
Likes1.4K
Comments225
Engagement Rate7.16%
Likes per 100 views6.14
Comments per 1K views10.15
Video Tags
#militer#berita terbaru#berita militer#rusia ke kalimantan barat#rosatom indonesia#rusal investasi kalbar#pltn kalbar#pulau semesak bengkayang#smr indonesia#nuklir indonesia 2026#sergey tolchenov pontianak#rusia indonesia kerja sama energi#investasi rusia di indonesia#kapal induk indonesia#its giuseppe garibaldi#tni al 2026#kemhan ri kapal induk#brigjen rico ricardo sirait#modernisasi kapal induk#hibah kapal induk italia
Description
BAWA ROSATOM & RUSAL ! ROMBONGAN RUSIA MASUK KALBAR, KEMHAN BEBER ALASAN TAK BELI KAPAL INDUK BARU
OKeh 2 kabar mantap,,Pertama, rombongan delegasi resmi Rusia dipimpin Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergey Tolchenov, datang langsung ke Pontianak, Kalimantan Barat. Tak tanggung-tanggung, mereka membawa dua raksasa industri Rusia: Rosatom (nuklir) dan Rusal (aluminium).
Rosatom menawarkan pembangunan PLTN dan Small Modular Reactor (SMR), termasuk teknologi radioisotop medis dan beasiswa teknik nuklir. Lokasinya disebut-sebut berada di Pulau Semesak, Bengkayang. Apakah Kalbar akan menjadi pintu masuk era nuklir Indonesia?
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan RI akhirnya menjelaskan alasan Indonesia tidak membeli kapal induk baru, melainkan menerima hibah ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia. Menurut Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, faktor waktu menjadi alasan utama. Membeli kapal induk baru bisa memakan waktu hingga 5–10 tahun.
Namun modernisasi kapal induk ini tetap membutuhkan anggaran sekitar Rp 7,2 triliun untuk perawatan dan peningkatan sistem tempur. Menariknya, proses modernisasi direncanakan dilakukan di dalam negeri.
Apakah ini langkah strategis mempercepat penguatan TNI AL? Atau justru ujian besar bagi industri pertahanan nasional?