Membaca Kebudayaan NU dan Indonesia – Tribute to Asrul Sani | Menjadi Indonesia #44
Jun 12, 2026•Channel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3•Updated Just now
Video Overview
Video Details
Published1 month ago
Duration1:52:18
Video IDbPOVZqnyfdY
Languageid
CategoryEducation
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeRegular Video
Performance Metrics
Views1.5K
Likes72
Comments11
Engagement Rate5.59%
Likes per 100 views4.85
Comments per 1K views7.40
Video Tags
Description
Program Menjadi Indonesia episode ke-44 NU Online menghadirkan Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU, KH M Jadul Maula, yang akan menggelar Muktamar Kebudayaan Indonesia bertajuk “Kembali ke Akar: Menguatkan Fondasi Kebudayaan NU dalam Krisis Peradaban Global” di Universitas KH A Wahab Hasbullah (Unwaha), Jombang, Jawa Timur, pada 12–14 Juni 2026. Sebagai pembanding perspektif, hadir pula seniman sekaligus kolektor seni, Nasirun, yang berbagi pandangannya mengenai arah kebudayaan Indonesia.
Di tengah arus disrupsi identitas, krisis geopolitik, krisis ekologis, ketidakpastian hukum ketatanegaraan yang bersifat sistemik, serta perlombaan teknologi mutakhir, Lesbumi memandang perlunya refleksi yang mendalam hingga ke akar persoalan. Muktamar ini juga menjadi momentum untuk menggali kembali pemikiran tokoh kebudayaan Indonesia sekaligus pendiri Lesbumi, Asrul Sani, yang gagasan-gagasannya dinilai tetap relevan hingga hari ini.
“Dia mengatakan bahwa kebudayaan itu keseluruhan yang menjadi jalan, sarana untuk mendidik manusia, yang pilarnya itu ada tiga: agama, ilmu pengetahuan, dan seni,” ungkap Kiai Jadul. Menurutnya, ketiga unsur tersebut harus berjalan bersama secara selaras dan seimbang, tanpa saling meniadakan.
Di tengah situasi ketika negara dinilai semakin menjauh dari tujuan idealnya, sementara NU masih menjadi salah satu kekuatan yang menopang kehidupan bangsa, muncul pertanyaan penting: apakah NU turut memikul tanggung jawab atas kondisi tersebut?
Sementara itu, Nasirun menekankan pentingnya perenungan dan upaya mengingat kembali warisan para pendahulu.
“Barangkali bangsa ini tidak cukup hanya membangun fisik, tidak cukup sekadar menjadi modern seperti Singapura. Melalui kesenian, Bung Karno ingin menunjukkan kepada bangsa-bangsa lain bahwa kebudayaan juga bisa menjadi panglima di negeri ini,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan kegelisahannya terhadap modernitas yang dianggap kian memangkas hubungan manusia dengan masa lalu.
“Kegelisahan saya, modernitas hari ini tampaknya memangkas masa lampaunya secara luar biasa,” katanya.
Saksikan pembahasan selengkapnya dalam program Menjadi Indonesia di kanal YouTube NU Online pada Jumat, 12 Juni 2026, pukul 20.00 WIB.
___________
NU Online - Media Resmi Nahdlatul Ulama
Super App | Website | Tiktok | X | Youtube | Instagram | Facebook | Spotify
Follow Us: https://linktr.ee/NUOnline
#nahdlatululama #nuonline #pbnu #menjadiindonesia #kebudayaan #lesbumi #muktamarkebudayaan