Tips Mengatur Keuangan Saat Rupiah Melemah Dibagikan Pengamat Ekonomi Sulawesi Tenggara

Jun 11, 2026Channel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3Updated Just now

Video Overview

Video Details

Published4 weeks ago
Duration0:20
Video IDdIXmtO-z9cQ
Languageid
CategoryNews & Politics
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeYouTube Short

Performance Metrics

Views1.1K
Likes1
Comments0
Engagement Rate0.09%
Likes per 100 views0.09
Comments per 1K views0.00

Description

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Pengamat Ekonomi Sulawesi Tenggara (Sultra), Syamsir Nur, membagikan tips mengatur keuangan saat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Saat ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah menembus kisaran Rp18 ribu per dolar, Kamis (11/6/2026). Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan harga berbagai barang dan jasa yang bergantung pada bahan baku maupun transaksi impor. Syamsir Nur mengatakan sektor yang paling terdampak dari pelemahan rupiah adalah industri manufaktur. Pasalnya, sebagian besar industri pengolahan di Indonesia masih menggunakan bahan baku impor, sehingga biaya produksi akan meningkat ketika nilai tukar dolar menguat. “Industri manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor akan merasakan dampak langsung karena biaya produksinya naik. Kenaikan itu kemudian berpotensi diteruskan ke harga produk di pasaran,” ujar Syamsir kepada awak media di Kendari. Menurutnya, dampak serupa juga dapat terjadi pada sektor transportasi. Industri penerbangan misalnya, berpeluang akan melakukan penyesuaian tarif karena biaya operasional, termasuk bahan bakar dan komponen tertentu. Selain itu, melemahnya rupiah diperkirakan akan berimbas pada industri makanan dan minuman. Kenaikan biaya produksi dapat memengaruhi harga jual produk, sehingga berpotensi menekan daya beli masyarakat. Dampak melemahnya rupiah ini turut dirasakan kelompok masyarakat menengah yang selama ini menjadi penggerak konsumsi. Ia memperkirakan dalam satu hingga dua pekan ke depan akan terlihat perubahan pola belanja masyarakat, termasuk tingkat kunjungan ke coffee shop. “Saat ini sebagian masyarakat mulai menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Padahal, tabungan idealnya disiapkan sebagai dana cadangan untuk menghadapi kondisi darurat atau ketidakpastian ekonomi,” jelasnya. Menghadapi situasi tersebut, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari ini menyarankan masyarakat mengatur pengeluaran berdasarkan skala prioritas dengan membedakan kebutuhan yang penting dan mendesak. #tribunnewssultra Download aplikasi berita Tribun X di Playstore atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru. Program: Video Editor: Sumber: Uploader: Update info terkini via tribunnewssultra.com | http://tribunnewssultra.com Follow akun Instagram @tribunnewssultradotcom Follow akun Twitter @tribunsultra Follow dan like fanpage Facebook Tribunnews Sultra YouTube business inquiries: [email protected]

Related Videos

More videos from Tribunnews Sultra Official