Orang ACEH ASLI yang Sudah 60 Tahun di CHINA 🇨🇳 Mengunjungi Pak Lemper Setelah 3 Tahun
May 26, 2026•Channel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3•Updated Just now
Video Overview
Video Details
Published1 month ago
Duration23:56
Video IDe-UCKp3LxIc
Languageid
CategoryEntertainment
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeRegular Video
Performance Metrics
Views60.1K
Likes2.4K
Comments282
Engagement Rate4.52%
Likes per 100 views4.05
Comments per 1K views4.69
Description
Join this channel to get access to perks:
https://www.youtube.com/channel/UCPs6VifaJFfIxRFf1wYhq9w/join
#indonesia #aceh #china #tionghoaindonesia
Beliau adalah Wu Jiannan, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pak Lemper.Seorang pria asal Meulaboh Aceh yang telah lebih dari 60 tahun menetap di Tiongkok, dan kini menjadi warga negara Tiongkok.
Pada tahun 1966, di tengah situasi politik yang bergejolak di Indonesia, Pak Lemper yang saat itu berusia 24 tahun memutuskan mengikuti ayah tirinya—seorang keturunan Tionghoa—untuk kembali ke Tiongkok.
Seperti ribuan Tionghoa Indonesia lainnya pada masa itu, mereka kemudian ditempatkan di Perkebunan Tionghoa Perantauan Yingde, di Provinsi Guangdong.Sebuah kawasan yang dibangun khusus untuk menampung para repatrian dari Asia Tenggara, termasuk dari Indonesia.
Enam dasawarsa telah berganti… kehidupan pun membawa beliau tumbuh dan menua di negeri yang berbeda.Namun ada satu hal yang tidak pernah benar-benar hilang dari diri Pak Lemper: Indonesia.
Beliau masih fasih bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia, bahkan sesekali menyelipkan dialek khas Aceh yang mengingatkan pada kampung halamannya dulu. Kenangan tentang tanah kelahirannya pun masih tersimpan jelas di benaknya, meski sudah puluhan tahun terpisah oleh jarak dan waktu.
Tiga tahun lalu, saya sempat datang ke tempat ini untuk menemui beliau dan melakukan wawancara singkat. Dan kali ini, saya kembali lagi ke Yingde… untuk bersilaturahmi dengan Pak Lemper, yang kini telah berusia 85 tahun.
Di usia senjanya, beliau masih menyimpan begitu banyak cerita—tentang perpindahan, identitas, kehilangan, dan kenangan pada Indonesia yang mungkin tidak pernah benar-benar pergi dari hatinya.