🔴LIVE: Bocah Jenius Boyolali Peraih Penghargaan NASA, Habiskan 6 Jam Sehari Cari Bug Sistem Website

Jul 18, 2026Channel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3Updated Just now

Video Overview

Video Details

Published2 days ago
Duration1:41:40
Video IDeY0NLAJiFpo
Languageid
CategoryNews & Politics
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeRegular Video

Performance Metrics

Views435
Likes3
Comments1
Engagement Rate0.92%
Likes per 100 views0.69
Comments per 1K views2.30

Video Tags

Description

TRIBUNSOLO.COM - Dari rumah sederhana di Desa Genengsari, Kecamatan Kemusu, Boyolali, Jawa Tengah, siapa sangka lahir sebuah prestasi dari seorang bocah yang masih berusia 12 tahun. Jari jemarinya yang bergerak lincah di atas papan ketik sebuah mini PC bekas mampu mencuri perhatian Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) hingga mengirimkan surat pengakuan resmi. Inilah kisah Ibrahim Al Abrar. Ibrahim, siswa kelas VI SD Negeri 3 Genengsari berhasil menemukan celah keamanan pada salah satu sistem digital milik NASA hingga memperoleh Letter of Recognition (LOR) melalui program NASA Vulnerability Disclosure Policy (VDP) di platform Bugcrowd. Surat penghargaan tersebut dikirim pada 9 Juli 2026. Di balik prestasi tersebut, keseharian Ibrahim tak jauh berbeda dengan anak seusianya. Sepulang sekolah, ia terlihat duduk di atas bangku kecil dengan posisi setengah jongkok di depan laptop. Seragam sekolah masih melekat di tubuhnya. Wajahnya tampak serius, sesekali jemarinya menekan tombol keyboard seolah tengah mengurai persoalan yang tak kasatmata. Di sudut ruangan berdiri kipas angin, sementara sebuah mini PC sederhana menjadi saksi awal perjalanan belajarnya di dunia teknologi. Ayah Ibrahim, Aminudin Salas (36), mengatakan ketertarikan putranya terhadap teknologi bermula dari kegemarannya bermain gim. Namun, kebiasaan tersebut kemudian diarahkan menjadi aktivitas yang lebih produktif melalui pembelajaran coding. "Awalnya itu belajar coding dulu. Terus di awal tahun 2026 mulai tertarik belajar cyber security," ujar Aminudin, Jumat (17/7). Belajar Coding secara Otodidak Menurut Aminudin, Ibrahim mulai belajar coding secara otodidak sejak duduk di kelas IV SD. Ia memanfaatkan berbagai video pembelajaran di YouTube dan berdiskusi dengan layanan kecerdasan buatan (AI) untuk memperdalam pemahamannya. Adapun dunia keamanan siber mulai ia tekuni sekitar enam bulan terakhir. Menariknya, Aminudin mengaku tidak memiliki kemampuan khusus di bidang pemrograman maupun keamanan siber. Sebagai guru Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di SMK Negeri Kemusu, ia hanya memberikan dukungan agar minat putranya terus berkembang. "Kalau saya background-nya jaringan, network IT. Kalau coding ngerti dikit karena dulu diajari saat kuliah. Tapi kalau cyber scurity sama sekali ga tau. Jadi dia benar-benar otodidak, sama ada kakak-kakak online yang ngirimi tutorial," katanya. Pada awal belajar, Ibrahim hanya menggunakan telepon genggam. Keterbatasan ukuran layar membuat proses belajar kurang nyaman. Melihat kesungguhan sang anak, kedua orang tuanya kemudian membelikan mini PC bekas senilai sekitar Rp2 juta agar ia dapat belajar lebih leluasa. "Dari orang tua support-nya, pokoknya yang penting positif didukung," tutur Aminudin. Berbekal perangkat sederhana itu, Ibrahim mulai mempelajari berbagai situs dan mencoba memahami cara kerja keamanan digital. Hingga akhirnya ia menemukan celah keamanan jenis broken link hijacking pada salah satu situs resmi NASA.

Related Videos

More videos from Tribun Solo Official