A NEW TASTE OF TAIPEI
Jul 11, 2025âąChannel
AI Analysis
Data from YouTube Data API v3âąUpdated Just now
Video Overview
Video Details
Published11 months ago
Duration25:55
Video IDkjLU8VrrTvw
Languageen
CategoryEntertainment
PrivacyPublic
Made for KidsNo
Video TypeRegular Video
Performance Metrics
Views428.8K
Likes17.2K
Comments911
Engagement Rate4.23%
Likes per 100 views4.02
Comments per 1K views2.12
Description
Hello~đ
Aku penasaran.
Kalian sesering apa lihat Instagram explore?
Tunggu.
Sampai lupa nanya keadaan kalian, kan đ
Ada hal menarik atau sebaliknya kah?
Apa yang terjadi selama satu minggu terakhir?
Kalau aku...
Hmmm đ€
Aku akan coba cerita dari awal, ya.
Tenang, ini bukan cerita berat yang beratnya kayak tagihan kita tiap bulan kok.
HAHAHA
Minggu lalu aku buka IG explore.
Ada satu video yang menarik (kucing) dan aku klik.
Setelah aku klik, aku lihat video di bawahnya.
Dan begitu seterusnya.
Sampai akhirnya aku lihat postingan tentang Lawrence Bittaker dan Roy Norris.
Berawal dari postingan itu lah, akhirnya algoritma Instagram explore aku jadi berubah.
Tadinya kucing, sekarang jadi 50-50 kucing dan crime.
đ±đ±đ±
Sekarang kalian ngerti kenapa aku tanya itu di awal, kan?
đ€đ: Lawrence Bittaker dan Roy Norris siapa, Kak?
đœ: Kalian cari tau di Google atau tanya AI setelah ini, ya.
ââââââââââââââââââ
Satu minggu terakhir, karena IG explore aku berubah, aku jadi sering baca-baca kasus crime.
Di antaranya:
✠Nora Dalmasso â ini ada di Netflix
✠Sarah Baartman
✠Pedro Rodrigues
✠Diao Aiqing
Dari semua kasus yang aku baca â ada satu yang bikin aku mikir lebih lama...
Otak Random gak bisa berhenti mikirin Diao Aiqing.
Kalian udah pernah tau ceritanya belum?
Kalau belum, aku cerita singkat, ya.
đ
Kasus: Diao Aiqing
Lokasi: Nanjing, 10 Januari 1996.
Diao Aiqing, mahasiswi 19 tahun di Universitas Nanjing.
Suatu malam, sekitar jam 9, Diao ketahuan punya alat pemanas listrik (heater) ilegal â alhasil dia ditegur oleh petugas asrama.
Setelah ditegur, Diao keluar dari asrama dalam keadaan marah dan kesal.
Hal biasa, kan?
Namanya juga anak muda.
Tapi siapa sangka, justru itulah terakhir kalinya Diao terlihat hidup dan tak pernah kembali.
âčïžâčïžâčïž
9 hari kemudian...
Seorang warga sipil biasa (petugas kebersihan kota â entah petugas sampah atau penyapu jalan pagi) menemukan sebuah tas plastik besar di dekat gerbang timur Universitas Nanjing.
Persis dekat asramanya Diao.
Saat dibuka, isinya adalah bagian tubuh manusia.
Beberapa hari berikutnya, mereka menemukan kantong plastik lainnya yang tersebar di delapan lokasi berbeda di Kota Nanjing.
Ada yang ditaruh di tempat sampah, di jalan, di area umum â kayak sengaja ditinggal biar ditemuin.
Kisahnya bikin hati kita kayak diiris lemon.
Sakit banget.
đ
Pelakunya?
Dia masih berkeliaran bebas di luar sana.
Gak pernah ketangkap dan ketahuan.
Bukan manusia. Bukan pula setan.
Karena bahkan setan pun mungkin punya batas.
((Aku gak pernah jadi setan, tapi rasanya mungkin seperti itu.))
ââââââââââââââââââ
đ§ Otak Random gak bisa diam: "Kenapa kepikiran sama kasus ini terus, ya?"
✠Diao hilang di sekitar kampus â tapi kampus diam aja, bahkan mereka telat untuk bikin laporan kehilangan Diao.
✠Kampus gak kabarin keluarga Diao sama sekali sampai jenazah ditemukan.
✠Kampus gak pernah gelar konferensi pers atau tindakan terbuka untuk mendorong penyelidikan.
✠Bahkan setelah 20+ tahun, gak ada pernyataan resmi atau permintaan maaf yang dikeluarkan.
Iya, aku tau dan paham, yang namanya institusi besar seperti kampus â pasti mikirin image dan nama baik.
Tapi dalam hal yang menyangkut nyawa dan manusia, aku rasa mengedepankan elemen itu juga termasuk bagian dari jaga image dan nama baik.
Hal buruk bisa terjadi di mana aja, kapan aja â bahkan di tempat yang paling kita percaya.
Dan ketika itu terjadi di dekat institusi besar â dalam hal ini kampus â udah seharusnya kampus ikut bersuara untuk berdiri mewakili hak mahasiswinya yang menjadi korban.
Bersuara untuk meminta keadilan.
Bersuara â bentuk tanggung jawab sebagai rumah kedua Diao.
Agar mahasiswa lainnya juga merasa aman karena kampus peduli dengan mereka, bukan hanya uang dan nama baik.
Tapi mereka malah memilih diam.
Diam untuk menjaga nama baik.
Mungkin... mereka bingung.
Mungkin... mereka takut salah langkah.
Tapi diam tetap bukan pilihan.
Karena dengan diam...
Di ruang sunyi itu â reputasi diselamatkan,
tapi nurani dikubur bersama jasadnya.
Dan di ruang sunyi lainnya â pelaku menari, merayakan 'mahakarya' tanpa nurani.
đ